Cimahi, MEDIASERUNI.ID – Di tengah menguatnya semangat pelestarian budaya dan identitas daerah, Pembina Dewan Pengurus Pusat Gema Persaudaraan Sunda Nusantara (GESANTARA), H. Asep Choiruloh, mengingatkan pentingnya memandang Sunda sebagai sebuah peradaban yang terbuka dan terus berkembang, bukan sekadar identitas politik yang membatasi ruang kebersamaan.

Menurut H. Asep Choiruloh, menjaga dan melestarikan budaya Sunda merupakan kewajiban bersama. Namun, ia menilai semangat tersebut perlu diarahkan secara bijaksana agar tidak terjebak dalam narasi “kami dan mereka” yang justru dapat mempersempit makna Sunda itu sendiri.

“Perlawanan untuk menjaga budaya Sunda adalah sesuatu yang penting. Tetapi Sunda tidak boleh dipahami hanya sebagai simbol politik. Sunda adalah peradaban yang lahir dari perjalanan panjang, dari perjumpaan dengan berbagai budaya dan bangsa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejarah mencatat bahwa kebudayaan Sunda tumbuh melalui interaksi dengan banyak peradaban, mulai dari India, Nusantara, Islam, Tiongkok, Arab, hingga Eropa. Berbagai pengaruh tersebut tidak menghapus jati diri Sunda, melainkan memperkaya dan membentuk karakter masyarakat Sunda yang adaptif serta terbuka.

Dalam pandangannya, ukuran ke-Sunda-an seseorang bukan ditentukan oleh sejauh mana ia menolak budaya luar, melainkan dari kemampuannya menyaring, mengolah, dan memberikan makna baru yang selaras dengan nilai-nilai luhur para karuhun.

Baca Juga:  HUT Purwakarta ke 194, Dedi Mulyadi Dorong  Purwakarta Kabupaten Terdepan di Jawa Barat

Selain itu, H. Asep Choiruloh juga mengajak masyarakat untuk memahami sejarah Sunda secara utuh. Ia menegaskan bahwa identitas budaya tidak selalu berjalan beriringan dengan identitas politik. Konflik antarkerajaan, aliansi dengan kekuatan asing, dan perebutan kekuasaan merupakan dinamika yang terjadi dalam setiap peradaban.

“Sejarah Sunda terlalu kaya untuk direduksi hanya menjadi narasi tentang musuh dan kawan. Sunda memiliki banyak fase dan kontribusi, mulai dari Kerajaan Sunda, Galuh, Sumedang Larang, Banten, masyarakat Baduy, hingga tradisi-tradisi lokal yang hidup sampai hari ini,” tambahnya.

Melalui pandangan tersebut, GESANTARA berharap masyarakat, khususnya generasi muda, mampu mengambil hikmah dari sejarah dan menjadikannya sebagai fondasi untuk membangun masa depan. Nilai-nilai seperti silih asah, silih asih, dan silih asuh dinilai tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Sebagai bagian dari edukasi kebudayaan, H. Asep Choiruloh menekankan bahwa tantangan masyarakat Sunda saat ini bukan memilih antara menjadi “Sunda asli” atau “Sunda modern”.

Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menghadirkan nilai-nilai Sunda dalam kehidupan sehari-hari, sehingga melahirkan masyarakat yang berintegritas, berilmu, berdaya saing, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Baca Juga:  Oknum Ormas Di Garut Aniaya Guru Ngaji, Kasusnya Hingga Ke Meja Hijau

GESANTARA memandang bahwa Sunda akan terus tumbuh dan memberi manfaat apabila tetap terbuka terhadap perkembangan zaman, tanpa kehilangan akar budayanya. Dengan semangat persaudaraan dan kebersamaan, Sunda diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata, tidak hanya bagi Jawa Barat dan Indonesia, tetapi juga bagi peradaban dunia.

“Sunda akan menjadi besar bukan karena menutup diri, melainkan karena kemampuannya untuk memberi manfaat dan menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat yang lebih luas,” pungkas H. Asep Choiruloh.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa Sunda bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sebuah peradaban hidup yang terus bergerak, belajar, dan memberi cahaya bagi generasi yang akan datang. (Chandra)