Bandung Barat, MEDIASERUNI.ID – Di tepian Waduk Saguling, tepatnya di Kampung Palayangan RW 05 Desa Cihampelas Kecamatan Cihampelas Kabupaten Bandung Barat, sebuah saung sederhana mulai menjadi pusat perubahan. Bukan sekadar tempat berteduh, saung ini dirancang sebagai ruang edukasi lingkungan yang perlahan menumbuhkan harapan baru bagi masyarakat sekitar.

Saung edukasi tersebut dibangun sebagai sarana pembelajaran berbasis lingkungan. Di dalamnya, warga diajak mengenal berbagai praktik pengelolaan alam yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari pemanfaatan eceng gondok menjadi pakan ternak, bahan kerajinan, hingga pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih bijak.

Relawan Inspirasi Rumah Zakat sekaligus Ketua Bank Sampah Motekar, Aam Aminudin, menegaskan bahwa keberadaan saung ini tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga perubahan pola pikir masyarakat.

Baca Juga:  Rizal Bawazier Dorong Revolusi Pengelolaan Sampah Pekalongan: Audiensi Langsung ke Menteri!

“Kami ingin masyarakat sadar bahwa potensi di sekitar, seperti eceng gondok dan sampah, bisa diolah menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa, 14 April 2026.

Kegiatan yang berlangsung di saung tersebut kini diikuti oleh sekitar 20 anggota, mulai dari kalangan pemuda hingga lansia. Perpaduan lintas generasi ini menjadi kekuatan tersendiri, di mana pengalaman dan semangat belajar saling melengkapi.

Salah satu anggota binaan mengaku merasakan manfaat langsung dari kegiatan ini. “Awalnya kami menganggap eceng gondok itu hanya mengganggu, tapi sekarang justru bisa jadi kerajinan dan bahkan punya nilai jual,” ungkapnya.

Dalam suasana yang sederhana dan penuh kebersamaan, anggota tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga keterampilan praktis yang bisa langsung diterapkan. Dari tangan-tangan mereka, eceng gondok yang sebelumnya dianggap gulma kini mulai bertransformasi menjadi produk bernilai guna.

Baca Juga:  Ribut Soal THM Hollywings, Ratusan Umat Islam Beraksi Tolak Maksiat di Karawang

Lebih dari itu, saung edukasi ini diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat luas. Upaya kecil yang dimulai dari lingkungan sekitar diyakini dapat membawa dampak besar, baik secara sosial maupun ekologis.

Aam menambahkan, kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat ekonomi masyarakat secara bertahap. “Harapannya, ke depan warga tidak hanya peduli lingkungan, tetapi juga bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari hasil olahan tersebut,” katanya.

Di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks, kehadiran saung edukasi di pinggir Saguling menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah sederhana, dari sebuah saung, dari kebersamaan, dan dari kesadaran untuk menjaga alam. (Dadan)