Bandung Barat, MEDIASERUNI.ID – Forum Ayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) menggelar kegiatan bertajuk “Ayah Selalu Hadir, Keluarga Selalu Bahagia” di Saung Pilemburan, Minggu 19 Juli 2026. Kegiatan yang dipimpin Ketua Forum Ayah KBB Hidayat Supriatna, M.Pd. ini menghadirkan narasumber Drs. H. Didik Agus T., M.Pd. dan H. Aris Setyawan, S.TP., Ketua Forum Ayah Jawa Barat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Hj. Sri Dewi Anggraini, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, jajaran Pengurus Bipeka DPD PKS Kabupaten Bandung Barat, para Ketua DPC PKS, serta pengurus Forum Ayah dari berbagai kecamatan Sekabupaten Bandung Barat.
Dalam pemaparannya, Drs. H. Didik Agus T., M.Pd. mengajak para ayah menjadi “Intentional Father” atau ayah yang memiliki visi dalam mendidik anak. Mengacu pada buku The Intentional Father karya Jon Tyson, ia menegaskan bahwa tugas seorang ayah bukan sekadar membesarkan anak, tetapi membentuk generasi yang kelak mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi pemimpin peradaban.
Menurutnya, terdapat lima tipe ayah, mulai dari Irresponsible Father, Ignorant Father, Inconsistent Father, Involved Father, hingga tipe ideal, yaitu Intentional Father. Seorang ayah ideal tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga memiliki tujuan yang jelas dalam membentuk karakter, nilai kehidupan, dan masa depan anak.
Untuk mewujudkannya, Didik memperkenalkan Framework AYAH, yakni Ajarkan, Yakinkan, Apresiasi, dan Hidupkan. Ayah harus mengajarkan nilai keimanan, akhlak, tanggung jawab, serta kecintaan kepada ilmu.
Anak juga perlu diyakinkan bahwa dirinya dicintai, dipercaya, dan mampu meraih cita-citanya. Setiap proses dan usaha anak patut diapresiasi, kemudian seluruh nilai kebaikan itu dihidupkan melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia juga menjelaskan tujuh kunci menjadi Intentional Father, di antaranya memiliki visi jangka panjang, hadir secara fisik dan emosional, membangun hubungan yang kuat dengan anak, menciptakan kebiasaan baik dalam keluarga, mendidik melalui keteladanan, memberikan tantangan sesuai usia dan potensi anak, serta mampu melepas anak menjadi pribadi yang mandiri ketika waktunya tiba.
“Warisan terbesar seorang ayah bukanlah harta, tetapi aqidah yang kuat, akhlak yang mulia, mental yang tangguh, kecintaan kepada Al-Qur’an, dan keteladanan hidup. Anak mungkin lupa materi yang diberikan, tetapi tidak akan lupa bagaimana ayah memperlakukan mereka,” pesannya.
Sementara itu, H. Aris Setyawan, S.TP. menekankan pentingnya kehadiran ayah melalui pendekatan kasih sayang dalam keluarga. Ia menjelaskan konsep lima bahasa cinta (Five Love Languages), yaitu kata-kata penegasan, sentuhan fisik, waktu berkualitas, pelayanan, dan pemberian hadiah.
Menurutnya, setiap anak memiliki bahasa cinta yang berbeda sehingga orang tua perlu mengenali dan memenuhinya agar anak merasa dicintai, dihargai, dan tumbuh dengan percaya diri.
Aris juga mengulas pentingnya memberikan stimulasi yang tepat terhadap perkembangan anak. Mengacu pada penelitian Roger Sperry mengenai fungsi otak serta teori Multiple Intelligences dari Howard Gardner, ia menegaskan bahwa setiap anak memiliki potensi dan kecerdasan yang unik.
“Tidak ada otak yang bodoh. Yang ada adalah otak yang terlatih dan tidak terlatih,” ujarnya.
Lebih lanjut, Aris mengajak peserta merefleksikan empat tipologi keluarga. Pertama, keluarga kuburan, yaitu keluarga yang minim komunikasi. Kedua, keluarga pasar, keluarga yang tampak ramai tetapi setiap anggotanya sibuk dengan urusannya masing-masing.
Ketiga, keluarga ring tinju, yaitu keluarga yang dipenuhi pertengkaran dan konflik. Sedangkan keluarga yang menjadi harapan adalah keluarga harmonis, yang dibangun atas prinsip saling asah, asih, dan asuh, sehingga rumah menjadi tempat bertumbuhnya kasih sayang, pendidikan, dan keteladanan.
Aris juga mengingatkan agar orang tua tidak menjadi “baperan”, melainkan menjadi orang tua yang “berperan”. Menurutnya, kehadiran ayah bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, sahabat, dan teladan yang akan menentukan kualitas generasi masa depan.
Melalui Forum Ayah KBB ini, para peserta diajak untuk semakin menyadari bahwa keluarga adalah sekolah pertama bagi anak. Kehadiran ayah dan ibu yang saling melengkapi, disertai visi, kasih sayang, komunikasi yang hangat, dan keteladanan, menjadi fondasi utama dalam membangun keluarga yang harmonis, tangguh, dan melahirkan generasi berakhlak mulia. (Dadan)

