Karawang, MEDIASERUNI.ID – Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Unsika terasa berbeda di tahun 2026 ini dengan kehadiran, Wakil Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi (Ristekdikti), Prof. Stella Christie, A.B., Ph.D., dalam orasi ilmiahnya ia menyampaikan bahwa AI dapat menjadi jembatan transformasi bagi Sumberdaya Manusia (SDM) yang unggul dan adaptif serta berdampak.

“Artificial Intellegence (AI) digadang-gadang sebagai kunci dari semua permaslahan dan dianggap dapat mengifisiensikan pekerjaan manusia”, jelasnya.

Di samping itu, ada tiga langkah jitu yang meliputi creation of knowledge (menciptakan pengetahuan), transmission of knowledge (transmisi pengetahuan), dan curation of knowledge (kurasi pengetahuan). Selain itu, Ai dapat menjadi pencipta, penyebar dan pengurasi pengetahuan ada dampak yang mengancam ekologi.

Lalu ia menjelaskan juga bahwa dampak dari penggunaan AI ini sebenarnya memakan banyak energi serta listrik dan air bagi pendinginan pada pusat data (data center).

“Tahun lalu penggunaan AI setara penggunaan listrik di negara Latvia selama 365 hari. Demikian halnya di tahun ini, konsumsi dayanya bisa setara Rumania dan bahkan akan semakin membengkak seperti konsumsi di seluruh Kanada pada 2030,” ucap

Sebagai contoh, penggunaan model AI seperti GPT-4 mengonsumsi air bersih untuk sistem pendingin yang setara dengan kebutuhan air minum 1,2 juta jiwa.

Lebih lanjut Dari sisi daya, penggunaan listriknya sebanding dengan kebutuhan energi untuk 325 universitas dan 50 rumah sakit besar di Amerika Serikat.

​Di sisi lain, ia menilai besarnya konsumsi sumber daya tersebut belum sebanding dengan realisasi pemanfaatan AI saat ini.
“Beragam potensi besar AI, seperti penemuan obat kanker atau pembangunan perusahaan berskala global masih jauh dari harapan”, ucapnya, di hadapan mahasiswa baru Unsika pada PKKMB 2026.

Baca Juga:  Jabar Komitmen di Peringatan World Rabies Day Bebas Rabies 2029

Di sisi lain penggunaan AI hanya terbatas di penggunaan hal-hal receh seperti membuat meme maupun konten hiburan.Padahal penggunaan AI itu bila diingat-ingat sangat boros energi. ​”Kami mendorong para mahasiswa untuk bernalar san melattih pemikiran kritis yang berbasis data”, ujarnya.

Dan pentingnya mengkonfirmasi kembali poin penting dari menempuh pendidikan di perguruan tinggi. ​”Pertanyaan intinya, di era ketika AI bisa menjawab segala pertanyaan dan memiliki berbagai fakta, masih adakah gunanya kalian kuliah?”, tegasnya.

Ia menegaskan bahwa, Kita tidak bisa mengatur perkembangan AI yang ditentukan oleh segelintir perusahaan besar. Akan tetapi kita bisa mengatur perkembangan diri kita mau di bawa ke arah mana dan seperti apa”, ujarnya.

Ia menyoroti fenomena yang mana lulusannilmu komputer (Computer science) menjadi salah satu bidang yang terkena dampak yang masif dari pertumbuhan akal buatan. “Kemampuan mesin dalam menalar dan menyelesaikan tugas coding secara lebih cepat, murah, dan tanpa henti membuat persaingan di dunia kerja semakin ketat”,paparnya.

Selain itu, perusahaan-perusahaan yang membutuhkan coder sudah pasti akan lebih memilih AI dibanding manusia. “Bagi kalian yang berkuliah di jurusan ilmu komputer, kalian harus mempunyai keahlian yang lebih daripada sekadar coding”, ungkapnya.

Baca Juga:  Berbagi Kebahagiaan: Rumah Zakat Berikan Sepatu Baru untuk Anak Yatim dan Duafa

Sebagai contoh, kemampuan mengevaluasi apakah codingan yang dibasilkan AI itu akurat dan berkualitas atau tidak,” ujarnya di hadapan para mahasiswa.

“Kami mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak abai dengan perkembangan AI dan lagi masyarakat tidak boleh menutup mata terhadap fakta bahwa otomatisasi AI telah mengeliminasi banyak posisi pekerjaan manusia saat ini”, imbaunya.

Ia menggaris bawahi bahwa perkembangan AI ini. Dosen juga didorong untuk tidak sekadar mengajarkan materi standar. Melainkan mengajarkan metode dan proses bagaimana menciptakan pengetahuan baru tersebut.

“Perguruan tinggi dituntut memiliki arah yang jelas terkait tujuan transmisi pengetahuan—apakah untuk kemajuan teknologi, mengendalikan AI, pengembangan diri, atau melestarikan pengetahuan bernilai tinggi seperti kemampuan menulis dan keterampilan tradisional agar tidak punah”, jelasnya.

Kemudian, langkah yang terakhir dan paling krusial yaitu kemampuan mengkurasi pengetahuan. “Di era melimpahnya data, pengetahuan sejati bukanlah sekadar akses cepat terhadap fakta lewat satu kali klik internet atau kepraktisan menggunakan ChatGPT untuk menyelesaikan tugas”, pungkasnya. (Damar)