Karawang, MEDIASERUNI.ID – Program Studi Teknik Elektro Unsika bersama PLN ULP Karawang Kota menggelar Sosialisasi Keselamatan Ketenagalistrikan Lingkungan 2026 di Kelurahan Palumbonsari, Karawang, guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keselamatan instalasi listrik.
Kegiatan bertema “Penguatan Pemahaman Masyarakat terhadap Instalasi Listrik yang Aman sebagai Upaya Meminimalisir Risiko Gangguan Kelistrikan” itu, berlangsung Rabu 22 Juli 2026.
bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan listrik yang aman, mulai dari instalasi rumah tangga hingga potensi bahaya jaringan listrik bertegangan tinggi.
Lurah Palumbonsari, Indra Sudrajat, mengatakan sosialisasi tersebut merupakan bagian dari pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa Fakultas Teknik Unsika dengan menghadirkan PLN sebagai narasumber.
“Materi yang disampaikan mencakup pemasangan instalasi listrik yang benar serta langkah-langkah keselamatan dalam penggunaan listrik sehari-hari,” kata Indra.
Ia menyebut, selama menjabat sebagai lurah belum menerima laporan mengenai persoalan kelistrikan yang bersifat krusial. Namun, di lapangan masih ditemukan beberapa tiang listrik yang kondisinya miring dan perlu mendapat perhatian.
Menurut Indra, beberapa tahun lalu sempat terjadi peristiwa korsleting listrik di kawasan Ruko Jaya Naga Sport Center yang menjadi perhatian publik.
Meski demikian, kejadian tersebut dapat segera ditangani sehingga tidak menimbulkan dampak yang lebih luas.
Selain itu, laporan yang paling sering diterima pemerintah kelurahan adalah pemadaman listrik di sejumlah wilayah, terutama pada malam hari.
“Jika ada laporan dari RT atau RW terkait pemadaman listrik, kami langsung berkoordinasi dengan PLN. Selama ini respons PLN sangat cepat dengan langsung menerjunkan tim teknisi ke lokasi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Keselamatan dan Kesehatan Kelistrikan (K2L) PLN ULP Karawang Kota, Haidar, mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan jasa perantara atau calo dalam pengurusan pemasangan listrik baru maupun penambahan daya.
Menurut dia, praktik percaloan masih kerap ditemukan, terutama pada pengurusan sambungan listrik bersubsidi berdaya 450 VA. “Yang sering terjadi justru masyarakat membayar melalui calo dengan biaya jauh lebih mahal dari tarif resmi. Padahal, proses pengajuan bisa dilakukan langsung melalui jalur resmi PLN,” katanya.
Haidar menjelaskan, biaya resmi pemasangan baru listrik bersubsidi 450 VA hanya berkisar Rp 400.000. Namun, di lapangan masih ditemukan oknum yang meminta bayaran hingga Rp 2,5 juta sampai Rp 4 juta.
Ia menegaskan bahwa subsidi listrik hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang memenuhi syarat dan telah terdaftar dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Selain mengingatkan bahaya praktik percaloan, PLN juga menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap risiko jaringan listrik tegangan menengah (JTM) yang memiliki tegangan mencapai 20 kilovolt (20 kV).
Menurut Haidar, masih banyak warga yang mengira seluruh kabel listrik memiliki tegangan seperti instalasi listrik rumah tangga yang hanya sekitar 220 volt.
“Ketidaktahuan terhadap bahaya jaringan tegangan menengah berpotensi menimbulkan kecelakaan fatal. Karena itu, kami ingin informasi ini diteruskan hingga ke tingkat RT dan RW agar semakin banyak masyarakat memahami risiko tersebut,” ujarnya.
Ia menambahkan, sasaran utama edukasi tersebut adalah mewujudkan zero accident atau nihil kecelakaan akibat listrik di lingkungan masyarakat.
Ketua pelaksana kegiatan, Deanisa, mengatakan sosialisasi tidak hanya berisi penyampaian materi, tetapi juga menjadi forum diskusi antara warga dan pihak PLN.
Menurut dia, banyaknya keluhan masyarakat mengenai pemadaman listrik dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu alasan kegiatan tersebut diselenggarakan.
“Dengan adanya diskusi ini, masyarakat dapat menyampaikan pertanyaan maupun keluhan secara langsung sehingga memperoleh penjelasan dari pihak yang berwenang,” katanya. (Damar)

